Ini Dia 3 Tahap Drip Coffee Brewing yang Perlu Kamu Perhatikan!

drip coffee
Photo by Devin Avery on Unsplash

Drip coffee – Kopi memiliki banyak sekali metode penyeduhan, mulai dari yang tradisional hingga menggunakan peralatan modern. Salah satunya adalah metode drip coffee atau kopi tetes.

Bagi penggemar kopi dengan metode manual brewing metode drip brewing bukan lagi hal asing. Bagi sebagian orang juga menyebutnya dengan filter brewing karena penggunaan filter dalam proses menyeduh kopi.

Drip coffee tentu memiliki penggemar tersendiri karena cita rasanya, juga kemudahannya yang dapat dibuat dari rumah menggunakan alat-alat manual brewing seperti V60 dan Kalita wave.

Banyak elemen yang harus diperhatikan untuk membuat secangkir drip coffee yang enak. Grind size, rasio bubuk kopi dan air, suhu air yang digunakan merupakan hal-hal yang harus diperhatikan. Namun, jika kamu bisa merangkai semua elemen itu dengan baik maka kamu akan mendapatkan secangkir drip coffee yang luar biasa!

hasil ekstraksi drip coffee
Photo by Avery Evans on Unsplash

Kemampuan untuk mengontrol ekstraksi kopi adalah salah satu yang terbaik, dan salah satu yang tersulit, tentang drip coffee brewing. Satu hal yang dapat membantu kamu memahami ekstraksi, dan cara menggunakannya untuk menyeduh kopi yang lebih baik, adalah teori tiga fase pembuatan drip/ filter brewing!

Apa saja 3 tahap tersebut? Yuk kita simak lewat artikel di bawah ini!

Tahap #1: Sebelum Penyeduhan (The Bloom)

Pre-brew atau tahapan sebelum brewing disebut juga “bloom” adalah tahap pertama dalam metode manual/ drip brewing. Tahapan ini yaitu dimulai dengan menuangkan sedikit air, secukupnya untuk membasahi bubuk kopi dan tunggu hingga sekitar 30 detik.

Mengapa pre-brew perlu dilakukan? Satu alasan sederhana yaitu karbon dioksida.

Selama proses roasting, gas karbon dioksida terperangkap dalam biji kopi dan tentunya harus dikeluarkan. Semakin ringan level roasting maka semakin banyak karbon dioksida yang terperangkap. Sedangkan dark roast melepaskan lebih banyak karbon dioksida.

the bloom
Photo by Devin Avery on Unsplash

Degassing terjadi secara perlahan setelah pemanggangan, dan juga selama proses brewing, karena sisa gas dilepaskan saat bubuk kopi terkena air panas. Inilah yang menciptakan ‘the bloom’. Dan seperti yang bisa kamu bayangkan, semakin banyak gas yang keluar, semakin besar ‘bloom’ yang dihasilkan.

Mengapa begitu penting untuk mengeluarkan karbon dioksida dalam bubuk kopi?

Mengeluarkan karbon dioksida lewat ‘the bloom’ membuat kopi lebih baik dengan dua cara. Pertama, karbon dioksida memiliki rasa asam yang tidak dinginkan pada hasil kopimu. Ingat bahwa ada perbedaan antara keasaman (acidity) dan asam (sourness).

drip coffee pre-brew
Photo by Batlle Creek Coffee on Unsplash

Kedua, saat ampas kopi mengeluarkan gas karbon dioksida, kekuatan gas tersebut juga akan mendorong air menjauh dari kopi, mengganggu ekstraksi. Oleh karena itu, akan baik jika proses ini dilakukan sebelum proses brewing yang utama, sehingga tidak menganggu kenikmatan hasil ekstraksi kopi.

Tahap #2: Ekstraksi

Pada proses ekstraksi, kamu dapat mulai mengontrol rasa dari hasil brewing kopimu. Ini karena bahan kimia yang berbeda diekstraksi pada tahap yang berbeda: pertama yang dapat kita rasakan adalah fruity acid (keasaman seperti asam buah), lalu rasa manis, dan akhirnya pahit.

Penting! Perlu dicatat bahwa tidak semua asam adalah seperti asam buah yang diinginkan: misalnya, asam caffeoylquinic menciptakan astringency / kekeringan dan kepahitan.

Nah! Karena bahan kimia yang berbeda diekstraksi pada titik yang berbeda, kamu dapat memanipulasi/ membuat seduhanmu untuk membuat secangkir kopi dengan cita rasa yang kamu inginkan. Dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mengontrol suhu air dan waktu menyeduh.

bloom ekstraksi kopi
Photo by Tyler Nix on Unsplash

Dilansir perfectdailygrind.com secara umum, suhu ideal untuk menyeduh kopi/ brewing adalah antara 91°C dan 96°C. Faktor-faktor lain seperti roast level, cita rasa, kelarutan, kesegaran, grind size dapat berperan dalam menentukan suhu terbaik.

Patrick Stridsberg, Co-Founder dari 3TEMP seorang Coffee Professional dari London melalui perfectdailygrind.com menyatakan bahwa ada hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam fase ekstraksi yaitu ‘pulsing’. Pulsing terjadi saat brewer menuangkan air dalam proses seduh beberapa kali dengan porsi sedikit atau disebut juga small pour.

Menurut Patrick, dalam pembuatan kopi dengan metode manual brewing untuk mencapai konsistensi beberapa orang merekomendasikan untuk mengurangi jumlah tuang –small pour yang sebelumnya dijelaskan. Hal ini berfungsi untuk menghilangkan jumlah variabel yang harus dikontrol oleh brewer.

hasil ekstraksi drip coffee
Photo by Jim Kalligas on Unsplash

Namun, Patrick juga menjelaskan bahwa pulsing penting untuk diperhatikan -tentunya. Pulsing yang lebih sedikit dan lebih besar akan mempersingkat waktu ekstraksi, sementara yang lebih kecil akan memperpanjang waktu namun membiarkan bubuk kopi tetap berperan dengan baik. Pulsing ideal akan bergantung pada jenis kopi itu sendiri serta grind size yang digunakan.

Tahap #3: Tahap ‘The End’ Drip Coffee Brewing

hasil akhir drip coffee brewing
Photo by Rima Kruciene on Unsplash

Dilansir perfectdailygrind.com tahap ‘end’ atau tahap terakhir akan mengacu pada 40% dari hasil akhir drip coffee brewing, sehingga kita perlu mengontrolnya dengan baik dan hati-hati. Dan perlu diingat bahwa dalam tahap terakhir ini, bahan kimia yang terkandung dan akan di ekstrak adalah yang bertanggung jawab atas rasa pahit dan rasa ‘tidak enak’ lainnya yang mungkin dihasilkan saat brewing kopi.

Penting diingat! Sangat perlu kehati-hatian karena jika hasil brewing over extraction sudah bisa dipastikan akan merusak cita rasa kopimu.

Hal yang perlu diperhatikan dalam tahap akhir ini yaitu waktu brewing dan juga suhu. Suhu air yang lebih rendah pada tahap ini akan mengurangi ekstraksi. Namun, nantinya akan membuat secangkir kopi hasil brewing yang secara keseluruhan lebih seimbang, manis dan asam.

Perlu diperhatikan! Jika kamu melakukan brewing dengan metode pour over maka suhu air tidak terlalu menjadi perhatian karena akan mendingin seiring bertambahnya waktu. Namun, jika menggunakan mechanical brewer atau batch brewer, maka perlu memperhatikan suhu brewing. 

hario v60
Credit: Kurasu Kyoto

Menurut Patrick Stridsberg melalui perfectdailygrind.com menyatakan bahwa walaupun penyesuaian suhu pada mechanical brewer/ batch brewer berbeda-beda namun secara umum yaitu 97°C untuk pre-brew, 94°C untuk ekstraksi, dan 89°C untuk fase akhir. – keseluruhan 5°C kurang dari fase ekstraksi. Patrick menyatakan bahwa pola penurunan suhu ini paling baik untuk memastikan hasil brewing yang manis, fruity, dan balanced. 


Setelah mengetahui tiga tahap dari drip coffee brewing, semoga hasil brewing kamu jadi lebih baik, ya! Jangan lupa perhatikan elemen-elemen penting seperti yang sudah dijelaskan di atas!

Jika kamu membutuhkan biji kopi berkualitas, kamu bisa mendapatkannya di Lakopi! Jangan lupa untuk drink your coffee healthily and happily! 

Happy brewing!

Salam, Lakopi Indonesia.