Berkelana ke Tanah Karo, Surganya Pecinta Kopi Arabika

Berkelana ke Tanah Karo, Surganya Pecinta Kopi Arabika

Pada kesempatan kali ini, tim Lakopi berhasil melaksanakan kunjungan langsung yang kami namakan Origins Trip ke Kabupaten Karo dengan mengunjungi beberapa petani dari berbagai desa yang berada di Kabupaten Karo dan dijembatani langsung oleh Pak Girsang, salah satu perwakilan dari Dinas Pertanian Kabupaten Karo. Desa yang tim Lakopi kunjungi untuk berburu kopi Tanah Karo pada kesempatan ini adalah Desa Dokan, Desa Cinta Rakyat, dan Desa Jaranguda.

Perjalanan yang ditempuh sekitar 3 jam dari Kota Medan ini diwarnai oleh rintik-rintik hujan yang mulai muncul sejak kami melewati Sibolangit. Namun tetesan air langit ini sama sekali tidak menyusutkan gairah dan semangat tim Lakopi untuk bertandang ke daerah surganya kopi arabika yang tumbuh subur ini.

Syukurlah, ketika berada di Kaban Jahe yaitu ibukota Kabupaten Karo secara perlahan langit mulai cerah meskipun tiupan angin lumayan kencang dengan suhu udara kira-kira 17o Celcius yang lumayan dingin. Pantang mundur, kami tetap melanjutkan perjalanan ke desa-desa di Kabupaten Karo.

Dalam perjalanan Origins Trip kali ini, kami disambut dengan hangat oleh para petani hebat asal tanah Karo bahkan tim Lakopi berhasil melakukan diskusi secara langsung dengan penggiat-penggiat kopi di tanah Karo seperti mendengarkan keluh kesah petani seputar budidaya kopi, menyaksikan bagaimana kompleksitas proses pasca panen kopi, hingga seputar perkembangan kopi Karo yang perlu perlu dioptimalkan agar lebih dikenal oleh masyarakat terutama pecinta kopi di Indonesia.

Salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang memiliki sumber daya alam komoditas kopi dengan potensi yang besar adalah kabupaten Karo.  Kabupaten yang terletak sejauh 77 kilometer dari Kota Medan ini terletak di dataran tinggi dengan ketinggian antara 600 sampai 1400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tak ayal kabupaten ini memiliki iklim yang sejuk dengan suhu yang berkisar 16oC-20oC sehingga kopi jenis arabika bisa tumbuh subur.

Jenis Kopi di Kabupaten Karo

Tim Lakopi Petani Kopi Desa Dokan
Tim Lakopi berfoto bersama dengan petani kopi Desa Dokan

Secara umum, jenis kopi yang ditanam oleh rakyat di kabupaten karo adalah kopi jenis arabika yang didukung dengan letak geografis di dataran tinggi. Kopi arabika akan tumbuh dengan baik jika tumbuh pada ketinggian 1275 hingga 1300 mdpl diikuti oleh curah hujan 2000-3000 mm yang menjadikan tanaman kopi arabika di daerah ini tumbuh subur lebat.

Selain itu varian yang paling sering ditanam adalah varietas Sigararutang meskipun kami menemukan beberapa varietas yang juga mulai dikembangkan seperti Gayo 2, Kartika, dan juga Mixed Variety.

Saat ini perkebunan kopi hampir tersebar di setiap kecamatan Karo seperti kecamatan Merek, Tiga Panah, Simpang Empat, Payung, dan Munthe yang merupakan sentra perkebunan kopi yang saat ini luasnya mencapai 1500 Ha.

Tradisi Budidaya Tanaman Kopi

Greenbeans kopi
Greenbeans Kopi Jumaraja Desa Cinta Rakyat

Menurut Surbakti sebagai salah satu penggiat kopi dari Desa Jaranguda, rakyat Karo sudah mulai menanam kopi sejak puluhan tahun yang lalu dari generasi ke generasi. Beliau bahkan mengaku tumbuh besar dan bisa menempuh pendidikan berkat budidaya tanaman kopi sang ayah.

Hal ini dimulai dari menjadikan tanaman kopi menjadi tanaman pagar kebun sayuran yang dimiliki mereka dikarenakan daerah Karo sangat mudah ditumbuhi oleh tanaman seperti sayuran dengan masa panen cepat, lama-kelamaan tanaman kopi dijadikan tanaman utama dikarenakan potensi yang semakin melejit akhir-akhir ini.

Selain itu, petani di Kabupaten Karo terutama yang berada dalam radius lumayan dekat dengan Gunung Sinabung menyatakan bahwa tanaman kopi lumayan strategis dibudidayakan pada saat Gunung Sinabung sedang aktif-aktifnya erupsi. Hal ini dikarenakan tanaman kopi lebih tahan terhadap abu vulkanik daripada komoditas lainnya misalnya buah jeruk.

Pasca Panen Tanaman Kopi di Kabupaten Karo

Drying dome kopi jumaraja
Drying dome kopi jumaraja

Berkat berbagai pelatihan dari Dinas Pertanian setempat, saat ini pengolahan kopi tanah Karo tidak hanya sebatas proses alami atau Dry Proccesing akan tetapi juga sudah menuju ke tahap washed proccess atau proses pasca panen secara basah yang melibatkan proses fermentasi dalam waktu tertentu.

Salah satu proses pasca panen yang paling umum di Tanah Karo adalah proses semiwashed.  Selain itu berkat adanya kelompok-kelompok petani di Karo, proses pasca panen di Karo mulai berkembang, terutama sejak alat-alat dari bantuan pemerintah mulai muncul mulai dari mesin pengelupas biji kopi seperti pulper, huller, bahkan solar dryer dome.

Hal unik dalam perjalanan Origins Trip ke tanah Karo yang tim Lakopi lakukan adalah kondisi geografis dari kabupaten Karo yang dikepung oleh 7 gunung dan 2 di antaranya merupakan gunung berapi aktif. Ciri khas ini menjadikan tanah Karo sebagai tanah yang subur untuk penanaman komoditas apapun terutama kopi.

Bahkan saat melakukan kunjungan ke kebun di Desa Cinta Rakyat, Pak Efran, salah satu petani di desa itu mampu menunjukkan secara langsung dari kejauhan Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang berada dalam radius yang cukup dekat dari kebun kopi mereka.

Ceri-ceri buah kopi mulai memerah saat kami mengunjungi kebun kopi tersebut membuat kami yakin pasti nantinya buah tersebut akan diolah hingga diseduh menjadi secangkir kopi yang nikmat.

Pada perjalanan Origins Trip kali ini kami menyadari banyak harapan-harapan yang diinginkan para petani dari Tanah Karo seperti berharap semakin banyaknya bantuan pemerintah untuk mengoptimalkan budidaya kopi seperti pupuk, atau alat-alat yang mendukung pasca panen kopi seperti pulper, huller, atau solar dryer dome maupun platfrom yang lebih mempromosikan kopi Karo.

Nurmia Novianti
Her love to food and culinary lead her to study about Food Science and Technology