Menghadapi Tantangan Budidaya Kopi di Tengah Perubahan Iklim

perubahan iklim budidaya kopi
Photo by Chalo Garcia on Unsplash

Perubahan iklim – Tanaman kopi di Indonesia merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menunjang ekonomi nasional. Menurut Ditjenbun (2013) komoditas kopi menyumbang devisa negara dari hasil ekspor ke berbagai mancanegara.

Permintaan akan kopi juga terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga produksi kopi terus berlangsung. Indonesia saat ini menempati urutan ke-4 negara penghasil kopi setelah Brazil, Kolombia, Afrika. Permintaan kopi saat ini mayoritas masih berupa kopi arabika dan robusta, dengan permintaan tertinggi yaitu kopi arabika.

Lalu apa hubungannya budidaya kopi dengan perubahan iklim?

Bagaimana upaya petani kopi melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi?

Yuk kita pelajari di bawah!

ilustrasi varietas kopi
Credit: pinterest.com

Kopi dan Perubahan Iklim

Perubahan iklim adalah kondisi beberapa unsur iklim (terutama curah hujan dan suhu udara) yang intensitasnya cenderung mengalami perubahan atau menyimpang dari dinamika dan keadaan rata-rata, menuju ke arah (trend) tertentu baik itu meningkat atau menurun.

Keberadaan dan budidaya tanaman kopi yang ada saat ini akan dihadapkan dengan kendala yang diakibatkan dari perubahan iklim karena pemanasan global akibat peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).

Perubahan iklim yang tidak dapat dihindari kian hari makin berdampak, tidak terkecuali terhadap budidaya kopi. Produktifitas kopi dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya suhu dan ketinggian.

Perkebunan kopi
Credit: kopiwonosoboblog.wordpress.com

Kopi sendiri merupakan tanaman yang ‘biasanya’ tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Contohnya saja kopi arabika dengan peminat yang tinggi ini, biasanya di tanam di daerah dengan ketinggian >1000 mdpl. Oleh karena itu, adanya perubahan iklim yang terjadi saat ini tentu dapat mempengaruhi produktifitas kopi.

Kira-kira bagaiamana dampak perubahan iklim kepada produktifitas kopi?

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Budidaya Kopi

Dampak perubahan iklim terhadap tanaman kopi dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang berpengaruh secara langsung akan pertumbuhan kopi itu sendiri, berikut diantaranya:

Peningkatan Suhu Udara

Salah satu yang mempengaruhi budidaya dan produktifitas tanaman kopi adalah suhu. Kenapa suhu mempengaruhi proses tumbuh dari tanaman kopi?

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh IPCC pada tahun 2007 menunjukkan bahwa kenaikan suhu udara dunia pada periode 2000-2100 diprediksi sebesar 2,1 – 3,9°C, sedangkan di Indonesia, dalam periode 2005-2035 rata-rata suhu diprediksi akan meningkat 1-1,5°C.

Perubahan suhu ini akan mempengaruhi beberapa aspek dalam penanaman kopi, seperti contohnya fotosintesis dan pembentukan buah. Peningkatan suhu mempenaruhi metabolisme tanaman seperti pembunaan, fotosintesis, dan respirasi yang berdampak terhadap penurunan produksi kopi.

varietas kopi S795
Credit: perfectdailygrind.com

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa suhu udara diatas 23 d celcius akan menyebabkan pembentukan dan pematangan buah lebih cepat sehingga kualitas kopi menurunAdanya perubahan suhu yang terjadi (baik meningkat atau menurun) tentu akan mempengaruhi produktifitas dan kualitas yang dihasilkan dari tanaman kopi.

Peningkatan Iklim Ekstrim

Terjadinya iklim ekstrim terkait dengan peristiwa El-Nino dan La-Nina yang menyebabkan penurunan curah hujan dan musim kemarau panjang. Di Indonesia sendiri dalam satu tahun terbagi menjadi 2 periode – yang biasa disebut – bulan basah dan bulan kering. Sebutan untuk bulan musim penghujan dan sebaliknya.

Bulan basah dan bulan kering ini seringkali dijadikan patokan dalam menanam tanaman kopi. Namun sekarang bulan basah dan bulan kering tidak dapat diprediksi karena perubahan iklim, sehingga waktu tanam dan panen yang biasanya dapat di prediksi dengan baik menjadi tidak dapat di prediksi, dan tentu berakibat pada produktifitas dari kopi itu sendiri.

Kopi sidikalang wet hulling
Credit: au.cafe-royal.com via Majalah Otten Coffee

Curah Hujan

Curah hujan memiliki pengaruh cukup besar dalam budidaya tanaman kopi. Misal saat bulan basah yang seharusnya hujan, ternyata tidak sesuai prediksi. Karena perubahan iklim, curah hujan tidak menentu dan mengakibatkan produksi kopi yang seharusnya tinggi menjadi menurun (bahkan bisa mencapai 30-40% penurunan produksi).

Faktor hujan yang berpengaruh adalah jumlah curah hujan dan distribusi curah hujan yang turun pada tahun yang bersangkutan. Masalah yang sering timbul dalam proses produksi kopi adalah distribusi curah hujan yang tidak merata sepanjang tahun dan adanya penyimpangan iklim seperti musim kemarau atau musim penghujan yang panjang.

Oleh karena itu, perubahan iklim yang mempengaruhi curah hujan akan berpengaruh secara signifikan terhadap produktifitas dan kualitas kopi!

Penyimpanan
Credit: (IDN Times)

Teknologi Budidaya untuk Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim

Mengapa diperlukan adaptasi serta mitigasi?

Luas areal penamanan kopi dari tahun 2016-2020 (1.246.657 ha à 1.264.331 Ha) atau meningkat sebanyak 1,15% dalam kurun waktu 4 tahun (Direktorat Jendral Perkebunan, 2020). Dimana 96% dari luas wilayah penanaman adalah milik perkebunan rakyat (Petani), sisanya adalah pihak swasta dan pemerintah (Aeki).

Selain karena produktifitas, perkebunan kopi cenderung merupakan perkebunan rakyat sehingga perlu adanya edukasi juga sosialisasi mendalam terkait adaptasi dan pencegahan para petani kopi tidak kehilangan penghasilan utama mereka.

Cara yang dapat dilakukan untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim diantaranya:

Pengolahan Lahan

Adaptasi untuk perubahan iklim terhadap budidaya tanaman kopi yang bisa dilakukan paling utama yaitu terkait dengan pengolahan lahan. Hal ini dilakukan dengan menerapkan metode teknologi sederhana yaitu Tanpa Olah Tanah atau TOT.

Sistem tanpa olah tanah adalah cara penanaman tanpa perlakuan persiapan lahan seperti halnya pembalikan dan penggemburan tanah terlebih dahulu, melainkan hanya diperlukan lubang untuk membenamkan benih ke dalam tanah. 

penggunaan lahan
Credit: lisa.id

Pemberian Mulsa

Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tumbuh dengan baik. Pemberian mulsa dari sisa bahan tanaman untuk mempertahankan ketersediaan air dalam tanah.

shade-grown
Credit: Big River Coffee Company via bigrivercoffee.co

Pembuatan Rorak

Dilansir dari ntt.litbang.pertanian.go.id rorak merupakan saluran buntu atau bangunan berupa got dengan ukuran tertentu yang dibuat pada bidang olah teras dan sejajar garis kontur yang berfungsi untuk menjebak/menangkap aliran permukaan dan tanah yang tererosi serta dapat bermanfaat sebagai media penampungan bahan organik, sebagai sumber hara bagi tanaman.

Rorak dalam budidaya kopi ini digunakan untuk tempat cadangan air, sehingga air hujan yang ada tidak langsung habis digunakan/ diresap dan memiliki tempat/ penampung air hujan tersebut sebelum dapat digunakan kembali.

Penggunaan Bibit Unggul

bibit unggul
Photo by Christian Joudrey on Unsplash

Penggunaan bibit unggul ini masih menimbulkan dilema, mengapa demikian? Hal ini terjadi karena bibit unggul yang ada cenderung masih mahal. Penggunaan bibit yang tahan terhadap perubahan iklim, contoh Klol Arabika dan Robusta S795 dan Sigarar utang (Arabica) serta BP 308 dan BP 409 (Robusta).

Peremajaan/ Pemangkasan

Upaya peremajaan/ pemangkasan mengurangi penyerapan dan upaya mitigasi. Banyak petani yang tidak melakukan pemangkasan karena akan menghalangi proses produksi berikutnya, dan membuat produksi turun. Padahal hal tersebut salah.

Faktanya, jika kita melakukan pemangkasan pada tanaman kopi yang cukup rimbun (pangkas atas dan bawah) maka akan membantu proses produksi berikutnya. Saat dipangkas, tanaman kopi bisa mengurangi penyerapan sehingga produksi/ panen kopi akan lebih cepat.

Penanaman Tanaman Penutup

Penanaman tanaman penutup untuk kopi terdiri dari:

  • Penutup Tetap (Gamal/Gliricidia sepium), Dadap (Erythrina indica), Lamtoro (Leucaena sp).
  • Penutup sementara Moghania macrophyla.
Tanaman penutup dadap
Dadap (Erythrina indica) Photo by planterandforester.com

Penggunaan Pupuk Organik

Penggunaan pupuk biasanya ada pupuk kimia dan organik. Penggunaan pupuk kimia biasanya akan bereaksi lebih cepat dan diharapkan akan merangsang proses pembentukan buah. Namun, ketika terlalu banyak asupan pupuk kimia pada tanah maka akan mengakibatkan  ‘kejenuhan’ dan membuat produksi menurun.

Sedangkan penggunaan pupuk organik dapat menurunkan kejenuhan air daun kopi pada musim kemarau sebanyak 10%, selain itu penggunaan pupuk organik akan meminimalkan ongkos produksi dan lebih ramah lingkungan.

ilustrasi pupuk organik
Credit: gardeningknowhow.com

Penggunaan Tanaman Penutup Tanah

Penanaman tanaman penutup tanah bermanfaat untuk mengurangi erosi, menambah nitrogen dan menekan pertumbuhan gulma (Arachis pintoi). Tanaman ini dapat membantu proses ‘menghasilkan’ nitrogen untuk fotosintesis dan bisa menghambat pertumbuhan gulma sehingga menghemat ongkos produksi.

Ongkos produksi yang dimaksud biasanya terkait pemeliharaan yang dapat dikurangi dengan penggunaan tanaman penutup tanah tersebut.


Permintaan akan kopi menuntut produktifitas yang juga tinggi dari petani kopi. Lakopi Indonesia sendiri hadir untuk membantu para petani kopi dan berhubungan langsung untuk membantu ‘memasarkan’ kopi ke pasar yang lebih luas.

Adanya Lakopi diharapkan dapat membantu mensejahterakan para petani kopi, juga ikut berperan dalam upaya mempertahankan industri kopi ditengah perubahan iklim yang terjadi saat ini.