Kenali Kopi Kintamani, Kopi Bali dengan Cita Rasa yang Khas

Kopi Kintamani Bali
Credit: independensi.com

Kopi Kintamani – Tidak bisa dipungkiri kalau kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di dunia, termasuk negara di Indonesia. Faktanya, sebanyak 2,25 miliar cangkir kopi yang dikonsumsi setiap harinya di dunia ini.

Selain itu, kopi juga sangat beraneka macam origin dari berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya kopi Kintamani yang berasal dari Bali. Selain terkenal dari kopinya yang nikmat, Bali juga terkenal memiliki keindahan alam yang luar biasa.

Bisa dibilang, cita rasa yang khas dan unik ini membuat kopi Kintamani memiliki keunggulan kompetitif dan banyak diminati oleh para pecinta kopi dari berbagai dunia, seperti Eropa dan Amerika.

Kopi ini ditanam di daerah dataran tinggi Bali dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Terlebih, agroekosistem jenis kopi Kintamani ini cocok ditanami oleh jenis kopi arabika yang sistem pertaniannya disebut homogen, terutama di kawasan Kintamani. 

Tak hanya itu saja, perkebunan kopi di Bali ini juga berdampingan dengan tanaman lain, seperti sayur dan jeruk. Hal tersebut dikarenakan agar pohon kopi berada di bawah pohon penaung serta dapat dikelola bersamaan dengan tanaman lain dan diberi pupuk organik. 

Nah, itu sekilas informasi mengenai kopi Kintamani Bali, masih ada sejarahnya dan beberapa informasi lain yang terkait dengan kopi ini. Merangkum dari berbagai sumber, simak artikel ini sampai habis ya!

Sejarah Kopi Kintamani

Sejarah Kopi Karo
Credit: angela pham (Unsplash)

Diperkirakan kopi arabika telah ada sejak abad-18 atau 19 di Bali. Menurut K.F van Delden Laerne (1885) yang menuliskan laporan berjudul Brazilië En Java: Verslag Over De Koffiecultuur in Amerika, Azië in Afrika, mengatakan bahwa Bali telah menyumbang ekspor kopi sebanyak 10337 pikul.

Dulu, perkebunan kopi di Bali sempat terkena penyakit karat daun. Hal tersebut membuat penurunan produksi arabika pada zaman jajahan Jepang tahun 1940-an, karena para petani dipaksa untuk mengganti tanaman kopi menjadi tanaman utama, yaitu jagung.

Selain itu, adanya erupsi gunung Batur dan gunung Agung yang juga menyebabkan penurunan produksi kopi arabika di pulau Bali.

Itu sebabnya reputasi kopi Kintamani sempat mengalami penurunan produksi yang sangat drastis, terutama di perdagangan internasional.

Pada tahun 1970-an, Departemen Pertanian dan Pemerintah Daerah mulai mengembangkan perkebunan kopi arabika melalui Pengembangan Tanaman Ekspor (PRPTE). Selain itu, juga disediakan lahan sebesar 9.000 hektare. 

Akan tetapi, pada tahun 1990 dan awal tahun 2000-an, kopi Kintamani mengalami penurunan harga, sedangkan pada saat itu harga jeruk keprok mengalami kenaikan harga yang sangat drastis.

Hal ini menyebabkan para petani berpindah alih ke tanaman jeruk keprok dan wilayah kopi pun ikut berkurang menjadi 3640 hektare di tahun 2002.

Akhirnya, setelah melewati masa-masa penurunan, kopi Kintamani mulai adanya kebangkitan dan mulai diekspor keluar negeri, seperti Eropa, Jepang, Amerika, dan lainnya.

Karakteristik dari Kopi Kintamani

Cita Rasa dan Aroma dari Kopi Java Preanger
Credit: infokopi.com

Bisa dibilang, kopi Kintamani Bali ini memiliki rasa yang sedikit asam seperti jeruk karena ditanamnya berdampingan dengan tanaman jeruk.

Kopi ini juga memiliki aroma eksotis yang khas dan tidak meninggalkan aftertaste di mulut kamu. Kalau soal body-nya atau teksturnya, kopi ini terbilang sedang dan tingkat keasamannya pun sangat rendah. 

Itu sebabnya, bagi kamu yang tidak suka secangkir kopi terlalu asam, bisa jadikan kopi Kintamani sebagai pilihan sehari-hari. Terlebih, kopi ini juga memiliki rasa tidak terlalu pahit dan tidak sepat di mulut

Kebudayaan Masyarakat

Masyarakat sekitar percaya bahwa kopi Kintamani ini memiliki nilai religius, sehingga mereka menjaga kopi-kopi tersebut berlandaskan pada tri-hita.

Nah, tri-hita ini adalah keseimbangan antara petani dengan tuhan, petani dengan petani, dan petani dengan lingkungan.

Untuk itu, dipercaya dengan adanya keseimbangan ini, kelestarian tanaman kopi kawasan Kintamani semakin menarik dan mempesona.

Proses Pengolahan Kopi Kintamani

Pencucian buah kopi
Credit: endeus.tv

Nah, proses untuk pengolahan kopi ini menggunakan teknik full washed yang bertujuan untuk menghilangkan lendir pada biji kopi.

Proses ini akan dilakukan dengan cara merendam biji kopi di dalam air selama 12 jam. Setengah dari 12 jam, perendaman air harus diganti dengan air baru, kemudian dilanjutkan proses perendaman kembali. 

Setelah sudah melewati perendaman selama 12 jam, biji kopi akan dibilas lalu dijemur di bawah sinar matahari. Bisa dibilang, biji kopi dengan teknik full washed memang harus melewati banyak tahapan pencucian.

Ketika buah kopi yang sudah dipetik, tentunya akan dimasukkan ke dalam bak berisi air untuk memisahkan buah kopinya.

Hal ini dapat terlihat saat buah kopi ada yang tenggelam dan ada juga yang mengapung. Buah kopi yang tenggelam tandanya berkualitas baik, sedangkan buah kopi yang mengapung tandanya berkualitas buruk.

Selanjutnya, buah kopi akan dipisahkan dengan bijinya menggunakan mesin pulper. Meskipun buah dan bijinya sudah terpisah, masih ada sisa-sisa yang menempel pada biji kopinya dan diperlukan proses fermentasi dan juga pencucian kembali.

Sebab, hal ini bertujuan agar buah kopi menjadi lunak dan mudah dipisahkan dari biji kopi secara sempurna. Teknik full washed ini menghasilkan karakter kopi yang ringan dan mild.

Fermentasi

Umumnya, fermentasi merupakan proses yang menghasilkan reaksi kimia yang melibatkan mikroorganisme lain untuk membantu proses penguraian kopi dan menghasilkan hal yang berbeda.

Mikroorganisme pada proses fermentasi ini membantu berkembangnya kopi dengan mengeluarkan banyak zat, enzim, mungkin juga gula dan banyak lagi. Biasanya, proses ini dilakukan selama 12-36 jam.

Penjemuran

Dalam proses penjemuran tidak boleh langsung kering seketika karena dapat berpengaruh pada kualitas kopi. Pengeringan memakan waktu sekitar 15 hari dengan cuaca seperti di Kintamani.

Selain itu, kopi harus benar-benar kering dengan kadar air sekitar 12-14 persen. Setelah proses pengeringan selesai, kopi tidak langsung dipasarkan tetapi harus disimpan satu hingga dua bulan.

Sangrai

Secara umum, teknik full washed dapat membuat kopi menjadi lebih bersih dan tingkat keasamannya (acidity) menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, ketika kopi ini memasuki proses roasting atau sangrai, sebagian roaster cenderung memilih tingkat kematangan medium.

Lalu, berapakah harga kopi Kintamani?

Kopi Kintamani
Credit: (bali.tribunnews.com)

Harganya kopi Kintamani khas Bali ini cukup beragam. Kamu dapat menemukan produk kopi yang dijual dari harga Rp70 ribu sampai Rp150 ribuan untuk per kg.


Nah, itu dia sederet informasi mengenai kopi Kintamani, mulai dari sejarahnya sampai harga penjualannya. Sebagai pecinta kopi, kamu harus mengetahui juga asal-usul dari kopi yang kamu minum,

salah satunya kopi Kintamani. Sebab, dengan adanya wawasan, tentunya membuat kamu jauh lebih mendalami saat meminum secangkir kopi tersebut. Selain itu, kamu juga perlu tahu bahwa secangkir kopi yang nikmat itu berasal dari biji kopi yang berkualitas.

Akan tetapi, kamu bingung belinya di mana karena pandemi seperti ini terhalang oleh PSBB? Tak perlu khawatir! Yuk, kunjungi lakopi.id, perusahaan marketplace yang menjual berbagai macam biji kopi berkualitas dan tentunya dipetik langsung oleh para petani.

Tunggu apalagi? Kunjungi lakopi.id sekarang untuk mendapatkan kopi terbaik! Salam Labuhan Kopi.

Suci Risanti Rahmadania
Hidup itu adalah pilihan. Menjadi seorang penulis itu adalah pilihan saya.