Mari Mengenal Kopi Gayo Lebih Dekat: Dari Asal Hingga Proses!

Mengenal Kopi Gayo
Credit: Marco Secchi (Unsplash)

Mengenal Kopi Gayo – Apakah kamu tahu kopi Gayo? Bisa dibilang, kopi yang satu ini merupakan salah satu kopi favoritnya masyarakat Indonesia, bahkan di beberapa daratan Eropa.

Selain itu, kopi Gayo merupakan varietas kopi arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan dari Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, Indonesia. Ya! Kamu sudah pasti bisa menebaknya, kopi ini berasal dari Aceh, yaitu daerah Dataran Tinggi Gayo.

Kopi ini ditanam di perkebunan Gayo, Aceh tengah, yang rata-rata berada pada ketinggian 1.000 hingga 1.200 mdpl di atas permukaan laut.

Perkebunan kopi ini telah dikembangkan di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan sebagian kecil wilayah Gayo Lues.

Nah, selain tempat asalnya, kira-kira bagaimana ya sejarah dibalik kopi Gayo? Merangkum dari berbagai sumber, yuk! Mari disimak artikel ini ya!

Mengenal Kopi Gayo #1: Sejarah Kopi

Ilustrasi Sejarah Kopi Gayo
Credit:(travel.okezone.com)

Awalnya, sejarah penanaman kopi di Tanah Gayo, Aceh Tengah, tidak luput dari penjajahan Belanda. Pada tahun 1873-1904, Belanda memerangi Kesultanan Aceh yang kemudian berakhir dengan kekalahan di pihak Aceh.

Pada saat itu Sultan Muhammad Daud Syah ditangkap oleh Belanda, dan perkebunan lada yang menjadi tanaman unggulan masyarakat pun menjadi terbengkalai alias berhenti.

Setelah itu, pemerintahan Belanda mulai menanam kebun kopi seluas 100 hektare pada tahun 1908. Lambat laun mulai munculnya kampung yang berada di sekitar lokasi perkebunan. Masyarakat di situ ikut menanam kopi dan membudidayakan kopi seperti yang dilakukan pihak perkebunan.

Pada saat itu, terdapat berbagai aturan yang salah satunya berbunyi bahwa kaum pribumi hanya boleh mengonsumsi kopi robusta, sedangkan kopi arabika hanya boleh diminum oleh para penjajah dan dijadikan komoditas ekspor.

Setelah Indonesia mengumumkan kemerdekaan, barulah perkebunan kopi di Aceh dikuasai oleh masyarakat setempat.

Terlebih, masyarakat mulai membuka kebun dengan membabat hutan pada tahun 1950-an. Akhirnya, pada tahun 1970-an, Aceh Tengah menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di Provinsi Aceh.

Semakin berkembangnya zaman, kopi Gayo juga semakin terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, tak hanya di Aceh saja, tetapi juga di berbagai provinsi Indonesia serta di tingkat dunia atau internasional.

Tak lama kemudian, pada tahun 2010, kopi Gayo mendapat penghargaan Fair Trade Certified dari International Fair Trade Organization dan menjadi nominasi The Best No.1 dari Internasional Conference on Coffee Science.

Mengenal Kopi Gayo #2: Karakter Rasa Kopi

Ilustrasi Kopi Gayo
Credit: (www.kba.one)

Kopi Gayo memiliki karakter rasa kopi yang kuat, tingkat keasaman yang rendah dengan sedikit rasa rempah dan tidak pahit, membuatnya menjadi sangat digemari oleh banyak orang, terutama di negara Amerika Serikat dan Eropa. Selain itu, ciri khas kopi ini cenderung rasa yang tidak konsisten.

Hal tersebut dikarenakan perkebunan kopi di daerah Dataran Tinggi Gayo memiliki ketinggian yang berbeda, serta cara budidaya yang berbeda juga.

Jika kopi ini ditanam di lokasi yang berbeda, di ketinggian yang berbeda, serta varietas yang bermacam-macam, memungkinkan karakter rasa dan kualitas fisiknya juga akan berbeda.

Selain rasanya yang seperti rempah-rempahan, kopi Gayo juga memiliki rasa seperti bebungaan (floral notes), teh hitam, lemongrass, bahkan clove.

Tak hanya itu saja, karakteristik aroma dan rasa biasanya dapat ditemukan tergantung asal wilayah kopi, seperti misalnya Bali dengan tasting notes khas seperti citrus/orange, atau kopi yang yang berasal dari wilayah Amerika seperti Kolombia dengan tasting note khas, yakni dried-fruit juga sering dapat ditemukan saat menikmati kopi Gayo ini.

Mengenal Kopi Gayo #3: Proses Pengolahan Kopi

pengeringan biji kopi
Credit: Alexander Schimmeck (Unsplash)

Nah, selain membahas asal, sejarah, dan karakter rasa dari kopi Gayo, kira-kira kamu penasaran tidak sih bagaimana proses pengolahannya?

Jadi, pengolahan buah kopi Gayo yang basah menjadi kopi beras atau biji kopi mentah sudah melewati berbagai macam proses pengolahan.

Terdapat dua pengolahan buah kopi, yaitu pengolahan basah (Wet Process) dan pengolahan kering (Dry Process). Dalam bahasa Belanda, pengolahan buah kopi basah disebut West lndische Bereiding, sedangkan pengolahan kering disebut Ost Indische Bereiding

Tentu saja dari kedua proses tersebut terdapat perbedaan, yakni perbedaan pada proses kering pengupasan daging buah kopi, kulit tanduk, dan kulit ari, yang dilakukan setelah biji kopi telah kering.

Sedangkan proses basah dilakukan saat biji kopi masih basah. Kira-kira bagaimana ya pengolahan dari kedua proses basah dan kering? Berikut penjelasannya:

Metode Pengolahan Kering

metode pengolahan kering
Credit:(www.coffindo.id)

Metode ini sering digunakan untuk kopi robusta dan juga kopi arabika di negara Brazil.  Buah kopi yang telah melewati masa panen akan dikeringkan, terutama buah kopi yang sudah matang sempurna. Pengeringan akan dilakukan dengan dua cara, yaitu pengeringan alami dan buatan.

Metode Pengolahan Basah

Ilustrasi metode pengolahan basah
Credit:(majalah.ottencoffee.co.id)

Nah, kalau metode pengolahan basah diproses mulai dari penerimaan pulping, fermentasi, pencucian, pengeringan, dan proses akhir termasuk penyimpanan. Berikut penjelasannya:

Penyimpanan

Penyimpanan
Credit: (IDN Times)

Buah kopi yang sudah dipanen akan dipindahkan ke tempat proses agar menghindari pemanasan yang menyebabkan kerusakan, seperti perubahan warna pada buah kopi dan busuk.

Pulping

Pulping
Credit:(mirzaluqman.wordpress.com)

Kalau proses ini berguna untuk memisahkan antara kopi dari kulit luarnya serta bagian daging yang disebut mesocarp. Cara kerjanya, yaitu dengan melepaskan exocarp dan mesocarp buah kopi yang dilakukan dengan air yang mengalir.

Fermentasi

Ilustrasi fermentasi kopi
Credit: (Gordi.id)

Proses ini berfungsi untuk memisahkan daging buah yang berlendir (mucilage) dan masih melekat pada kulit tanduk, sehingga saat masuk proses pencucian akan mudah terpisah serta mempermudah proses pengeringan.

Pencucian

penyucian biji kopi luwak
Credit: (www.purekopiluwak.com)

Proses yang satu ini akan dilakukan secara manual, yaitu dari bak fermentasi yang dialirkan dengan air yang mengalir melalui saluran bak pencucian.

Pengeringan

Pengeringan biji kopi
Credit:(aerikuriyansyah-ringkasantphp9.blogspot.com)

Pengeringan pertama dilakukan sampai kadar air berkurang, yakni dari 60% menjadi 53%. Pengeringan kopi dapat dilakukan dengan sinar matahari selama 2 sampai 3 hari dan sering diaduk.

Jika kadar air sudah mencapai 45%, pengeringan dilanjutkan di bawah sinar matahari sampai kadar airnya mencapai 11%. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas dan mengoptimalkan proses penyimpanan.

Proses Akhir

penyimpanan biji kopi
Credit: dghchocolatier (pixebay.com)

Terakhir, proses dilanjutkan dengan proses pembersihan akhir yang berguna menjaga penampilan kopi untuk diekspor atau diolah kembali. Tahapan ini meliputi pengawetan dan penyimpanan.

Buah kopi dapat disimpan dalam bentuk buah kopi kering atau kopi parchment kering yang tempat dan kondisinya sama, yaitu kadar air 11%, dan RH udara tidak lebih dari 74%.


Nah, itu dia informasi-informasi terkait dengan kopi Gayo, mulai dari sejarahnya, asalnya, bahkan proses pengolahannya.

Buat kamu yang suka meminum kopi Gayo, jangan lupa juga untuk mengetahui informasi terkait dengan kopi Gayo ya! Agar wawasan kopi kamu jauh lebih luas mengenai kopi Gayo.

Selain itu, kamu juga perlu tahu kalau secangkir kopi minuman favoritmu berasal dari biji kopi mentah yang berkualitas.

Kira-kira di mana ya mendapatkannya? Tak perlu khawatir! Lakopi.id menyediakan berbagai macam jenis biji kopi mentah yang berkualitas dan dipetik langsung oleh petani.  Yuk langsung saja order dan kunjungi lakopi.id. Salam Labuhan Kopi!

Suci Risanti Rahmadania
Hidup itu adalah pilihan. Menjadi seorang penulis itu adalah pilihan saya.